wilkommen…

kukhianati tujuan awal pembuatan blog ini, proporsinya makin tak seimbang
[24/10/09] dan daftar pengkhianatan ini makin panjang adanya… kutunggu sebuah pembalasan.
[29/10/09] lumayan bertambah satu, walau hanya menerjemahkan. Ini adalah sebuah kemajuan dari pembaruan komitmen! :p
[1/11.09] physics is my life, politics is a responsibility to me, then poetry is somewhat passionate and cheers me a lot, let me speak from the deep of my heart
————————————————————————————————————–
3Ps: “exploring physics and politics, dive into the realm of poetry”
————————————————————————————————————–,

Desember 18, 2008

To Kill a Mockingbird

Aku jelas akan memasukkan To Kill a Mockingbird ke dalam deretan novel favoritku. Ditulis dengan sangat apik dan konsisten oleh penulisnya, pada mulanya tidak terlalu menggoda untuk dibaca. Jujur, perlu sedikit untuk memaksakan diri membacanya di bagian-bagian awal. Sedikit bertele-tele, namun sejak memasuki bagian tengah dan akhirnya, baru terasa semua detail di bagian awal itu dibutuhkan. Entahlah, apa karena faktor terjemahan, atau memang gaya Harper Lee dalam novel pertamanya ini memang demikian. Rasanya seperti mendaki bukit yang cukup melelahkan di awalnya, kau ingin berbalik saja dan pulang, namun merasa tanggung sembari berharap perjalanan ini akan menyenangkan. Harapanmu tak sia-sia, menjelang puncak kau mulai bisa melihat keindahan pemandangannya, lantas ketika tiba di puncak kau begitu terkesan sehingga kelelahan itu tak begitu terasa, begitu waktunya menuruni bukit kau menjalaninya begitu enteng. Hal yang agak mirip kurasakan saat membaca Les Miserables, namun tentu saja novel Hugo yang satu itu lebih melelahkan awalnya serta lebih indah. Saat menemukan titik keindahannya, kau terperangkap untuk terus membaca hingga selesai, tak peduli meskipun ada beratus-ratus halaman lagi yang masih harus dijejak.

Kita kembali lagi pada Harper Lee. Mengenai konsistensi yang sempat kusinggung, hal itu menyifati gaya Lee yang menggunakan sudut pandang Scout, seorang anak perempuan berusia delapan tahun sebagai tokoh utama dan narator dalam cerita ini. Dari sisi logika, sudut pandang, semuanya masuk akal dan konsisten untuk usia delapan tahun, meski yang disorot adalah realitas sosial di Maycomb County, Alabama. Tipikal permasalahan orang dewasa semacam rasisme, perkosaan, penegakkan keadilan, dan isu seputar sampah masyarakat yang dikemas menarik.

Racialism Injustice

Latar belakang isu rasial dan interaksi antarwarga di Maycomb County begitu terasa dalam novel ini dengan karakter tokoh-tokohnya yang begitu kuat. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1960, Lee menuliskannya dengan setting Alabama menggunakan latar belakang masa kecilnya sekitar tahun 1936 ketika ia masih berusia 10 tahun. Tak heran bila isu yang berkembang pada masa itu di Alabama, terutama kasus Scottsboro sangat kental mewarnai situasi novel ini.Kasus yang sangat populer terkait rasialisme, dan menjadi catatan kelam dalam sejarah hukum Amerika. Bahkan kisah pengadilan Tom Robinson dalam kisah ini, mirip dengan kasus Haywood Patterson, salah satu dari Scottsboro Boys.

Bagi sebagian orang, novel ini merupakan ungkapan kegelisahan atas ketidakadilan berdasarkan warna kulit yang masih saja mendera Amerika pada abad ke-20. Uniknya penggunaan sudut pandang seorang gadis cilik alih-alih aktivis kemanusiaan, pejuang HAM, atau mahasiswa misalnya memberikan nilai lebih dan menjadi kekuatan penyampaian pesan dalam cerita. Anak kecil menjadi simbol kemurnian nurani yang mudah terusik melihat ketidakadilan bila dibandingkan dengan orang dewasa dengan pemikiran tertentu dan haluan politiknya. Cerdasnya Lee, ia pun mampu menakar penceritaan sehingga masuk akal dalam level nalar tokoh utamanya sekalipun masalahnya begitu kompleks.

Secara umum, novel peraih Pulitzer ini berpesan tentang memahami kondisi orang lain dan cara hidup yang berbeda, bagaimana menghadapi perbedaan, prasangka pada orang berbeda ras yang prinsip yang tak sama. Bahwa untuk bisa hidup bersama dalam kedamaian kita perlu empati, menerapkan prinsip kesetaraan dan keadilan untuk semua di hadapan hukum. Aku tidak bilang menyepakati semua prinsip yang disampaikan dalam novel ini, ada beberapa yang perlu diievaluasi dan dikoreksi berdasarkan standar pribadiku. Namun yang penting adalah sangat menyenangkan untuk mendengarkan orang lain berbicara, menyampaikan versinya, mengutarakan prinsipnya, sehingga kita bisa memahami kondisinya sebelum menyatakan persetujuan atau penolakan kita.

Kisahnya dimulai dengan uraian Scout mengenai latar belakang keluarganya, kemudian berlanjut saat ia menghabiskan musim panas menjelang tahun pertamanya pergi ke sekolah. Berbagai kejadian ia alami bersama kakaknya Jem dan Dill, kawan yang menghabiskan musim panasnya di Maycomb County. Rasa penasaran khas anak-anak terhadap kondisi tetangganya yang tertutup, hingga keputusan ayahnya untuk menjadi pembela seorang terdakwa berkulit hitam mewarnai kehidupan mereka saat itu. Scout kecil terseret dalam masalah, bermula dari sebutan pencinta nigger yang diolok-olokkan oleh banyak orang hingga ancaman yang membahayakan jiwanya juga kakaknya dari seseorang yang menyimpan dendam pada Atticus, sang ayah.

Atticus Sebagai Ayah dan Pengacara
Yang menarik lagi, khususnya bagiku, ada beberapa prinsip parenting yang kutemukan di sini. Terutama pada sosok Atticus Finch seorang pengacara sekaligus seorang ayah bagi Jem dan Scout. Bagaimana ia menegakkan prinsip hidup secara tegas pada anak-anaknya. Salah satu kutipan favoritku di bagian akhir saat ia mengatakan pada Sherrif:

…jika mereka tak mempercayaiku, mereka takkan mempercayai siapapun. Jem dan Scout tahu apa yang terjadi. Jika mereka mendengarku di kota menyampaikan kejadian yang berbeda, Heck, aku takkan memiliki mereka lagi.Aku tak bisa hidup dengan satu cara di kota dan cara lain di rumah.

Poin ini menekankan pentingnya membangun kredibilitas dengan menanamkan kejujuran dan keterbukaan terhadap anak-anak. Menghindarkan sikap-sikap munafik dan culas bahkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Prinsip hidup dan hukum diprioritaskan selain demi ketertiban juga agar tidak menanggung beban mental pada seorang individu karena lari dari tanggung jawabnya. Atticus bahkan bersikeras untuk menyelenggarakan proses peradilan sesuai hukum formal yang berlaku untuk mempidanakan Jem yang ia duga telah membunuh untuk membela dirinya, hingga ia diyakinkan oleh sheriff bahwa yang terjadi murni kecelakaan. Dalam bagian lain adalah keberhasilan penanaman karakter obyektivitas dan empati pada anaknya. Hal ini nampak ketika Scout mengkritisi pamannya yang memarahi dia tanpa bertanya alasan perilakunya.

Paman tak adil. Paman tak adil

Yah, pertama-tama, Paman tak pernah meluangkan waktumu sejenak saja untuk memberiku kesempatan bercerita dari sisiku—Paman langsung saja menyerangku. Kalau aku dan Jem bertengkar, Atticus tak pernah hanya mendengar cerita Jem, dia mendengar ceritaku juga…

Sebagai pengacara, Lee pun menggambarkan Atticus sebagai seseorang yang memiliki kredibilitas tinggi dan kecintaan pada profesinya. Sebagai pengacara ia masih memegang idealism untuk menegakkan keadilan bagi setiap orang tanpa memandang latar belakangnya walaupun mengundang cemoohan bahkan ancaman terhadap keluarganya.

tetapi, ada satu hal di negara ini yang menunjukkan bahwa semua manusia diciptakan sederajat—ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockefeller, seorang bebal sederajat dengan seorang Einstein, dan seorang tak berpendidikan setara dengan rector universitas mana pun. Lembaga itu, Tuan-tuan adalah pengadilan… Pengadilan kita memiliki kecacatan sebagaimana lembaga manusia manapun, tetapi di negara ini, pengadilan kita merupakan penyetara besar, dan dalam pengadilan kita, semua manusia diciptakan sederajat.

Terlepas dari realitas yang tak selalu menjamin demikian. Meskipun pada akhirnya upaya Atticus gagal, ia tidak tergilas pramatisme dengan melakukan manipulasi hukum dan setengah-setengah dalam menegakkan keadilan. Hal ini menunjukkan masih selalu ada orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi pada idealismenya sekalipun lingkungan tidak memberinya kesempatan untuk melakukan perbaikan. Ya, sebagaimana yang ia ucapkan sendiri lembaga manusia manapun pastinya memiliki kecacatan. Dalam kasus pengadilan yang menggunakan sistem juri seperti di Amerika, hal ini tentu semakin bermasalah karena hukum seringkali berada di tangan orang-orang yang belum tentu mengerti hukum, sehingga keadilan pun bagaikan perjudian.


Hampir Terlupa: Mitos Mockingbird

Satu-satunya novel Lee yang diterbitkan ini mulanya diberi judul Atticus, namun kemudian berganti menjadi To Kill a Mockingbird, lebih menarik, namun sepintas tidak memiliki hubungan dengan inti cerita. Menurut mitos, ada larangan untuk membunuh Mockingbird, karena ia hanya jenis burung yang suka bernyanyi dan tidak pernah mengganggu manusia. Jika iseng-iseng membunuh Mockingbird maka akan ada kesialan yang menimpa. Lee mencoba untuk menggunakan mockingbird ini sebagai metafor dari orang-orang berkulit hitam. Mengusik kehidupan orang lain yang tidak memiliki kesalahan apapun sekedar karena arogansi ras dan asumsi-asumsi buruk, apalagi sampai mencelakakannya akan berakibat buruk. Setiap orang akan mendapatkan hukuman dari perbuatan salahnya, cepat ataupun lambat.

Add comment November 4, 2009

buat purnama yang mengantarku pulang

Gelisah

kemana kubawa gundah ini
pada manusia yang alpa?
mereka dengan karat-karat di hati,
yang sibuk bermesra dengan mimpi.

kemana kubuang keratan duka
pada cawan sejarah?
lembaran kertas?
dalam ceruk kepiluan?
di jalan bisu?

kemana kualirkan air mata
pada wajah penuh kerut?
belaian setengah hati?
atau sungai sesalan?

kemana kuserahkan diri
pada kekasih yang fana?
masyarakat yang tak peduli?
tubuh bangsa yang sakit?
tegakah kubebani orangtua yang penuh dukanya?

ku tahu kemudian
hanya Kau jawabnya

Surabaya,4 Agustus 2008


Telegram buat Tuhan

GAWAT TITIK SUCIKAN AKU ADA NODA DI IKHLASKU

dikirim 3 November 2009 dari Bandung

Add comment November 4, 2009

Penyimpangan Invariansi CP, Asimetri C, dan Asimetri Baryon di Alam Semesta

Paper A.D. Sakharov tahun 1967 terkait mekanisme Baryogenesis dalam Bahasa Indonesia.

[diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris “Violation of CP invariance, C asymmetry, and baryon asymmetry of the universe"]

unduh di sini

Add comment Oktober 29, 2009

Siapakah yang Peduli Andai Untaian Resah ini tak Bernama

I (untukmu)
Bahkan andaikata kupergi,
menghilang berhari-hari, raib satu-dua minggu,
mungkin kau masih tak sadar.

Sekarang ini,
pada jadwal padatmu, tak terselip janji denganku;
dalam sedikit senggangmu, kadang kau lupa karena penatmu.
Aku tak tahu, dalam mimpi, sempatkah kau jumpai aku.

Satu hal yang pasti, aku pernah ada,
dahulu, di masa lalumu.

Setengah cemas kubertanya:
di masa depanmu, di mana tempatku?

II
(untuknya)
Dulu aku suka bintang-bintang itu. Sekarang lebih sering aku curiga. Karena mereka sepertimu, pandai mengelabui. Dibuatnya terkesan aku, mereka bersama akrab ceria, nyatanya satu dan lainnya berjauh-jauhan. Bahkan pada jarak yang tak dikenal pemberi nama mereka. Kilau kerlip cantik yang menawan menentramkan, nyatanya kobaran besar, letupan dahsyat serupa senjata paling ditakuti di bumi. Bukan hanya itu, yang kulihat ternyata masa lalu. Apa sebenarnya hari ini, tak pernah kutahu, baru terbongkar esok. Rahasia esok, baru nampak esoknya lagi. Huh, mempermainkan keterbatasan dan kelemahanku. Itu tak adil!

2 comments Oktober 24, 2009

when you can’t speak literally, say it literarily

that’s what symbols are for,
then it’s the time to use a metaphor,
when you’re giving up sailing and look for an harbor,
but afraid of being caught by the eyes of that condor,
oh God, what exactly i’m running on and what for,
if this was not the way You’ll love me more.

Add comment Oktober 13, 2009

Previous Posts


halamanku

arsip

menu

topik

catatan saja esai fisika partikel kosmologi physics puisi relativitas review sas sejarah surat sobat

statistik

kawan

tautan

kata mereka

rira di mengenai blog ini
hiensmegantara di mengenai blog ini
rira di mengenai blog ini
rira di Siapakah yang Peduli Andai Unt…
rira di Siapakah yang Peduli Andai Unt…
saiah adalah aku di Aku Bayangkan Indonesia Jadi…
Danzdut di mengenai blog ini
rira di Aku Bayangkan Indonesia Jadi…
ainami di Aku Bayangkan Indonesia Jadi…
Est di perjalanan ke barat

in contemplation

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir. (Q.S. Yunus: 24)